TARAKAN, CAKRANEWS — Universitas Borneo Tarakan (UBT) menggelar kuliah umum bertajuk Entrepreneurship University: Menyiapkan SDM Unggul dalam Industri Haji Global, Senin (4/5/2026). Kegiatan ini menghadirkan Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, di Auditorium Gedung Rektorat UBT.
Rektor UBT, Yahya Ahmad Zein, mengatakan kehadiran wakil menteri menjadi momentum penting bagi kampus yang tengah memperkuat arah sebagai Entrepreneurship University.
“UBT ini usianya 26 tahun, dan sebagai perguruan tinggi negeri baru 17 tahun. Di usia yang masih muda ini, kami berharap kehadiran Pak Wamen membawa berkah dan penguatan bagi UBT,” kata Yahya.
Ia menjelaskan, UBT saat ini memiliki 35 program studi dan seluruhnya dibekali muatan kewirausahaan. Komitmen tersebut diarahkan agar lulusan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan kerja.
“Kami ingin mahasiswa UBT punya keberanian dan kapasitas menjadi pelaku usaha, termasuk menangkap peluang di sektor strategis seperti industri haji dan umrah,” ujarnya.
Dalam kuliah umum tersebut, Dahnil menekankan bahwa pembentukan Kementerian Haji dan Umrah merupakan langkah strategis pemerintah dalam mengelola sektor dengan skala besar dan kompleks.
“Ini amanah yang menggembirakan sekaligus bersejarah. Kementerian ini relatif baru dan jumlahnya sangat terbatas di dunia. Saya menjadi Wakil Menteri pertama di kementerian ini,” kata Dahnil.
Ia mengakui, pengelolaan haji tidak sesederhana yang dibayangkan. Kompleksitasnya mencakup aspek pelayanan, logistik, hingga tata kelola keuangan yang besar.
“Awalnya saya kira sederhana, tetapi ternyata sangat kompleks dan membutuhkan pengelolaan yang serius,” ujarnya.
Menurut Dahnil, pembentukan kementerian ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang sejak lama mendorong adanya institusi khusus untuk mengelola haji dan umrah.
Ia menjelaskan, secara global hanya ada tiga negara yang memiliki kementerian khusus haji, yakni Arab Saudi, Irak, dan Indonesia.
Lebih jauh, Dahnil menguraikan tiga dimensi utama yang menjadikan haji sebagai sektor strategis.
Pertama, dimensi historis. Ia mencontohkan tokoh seperti Haji Agus Salim dan HOS Tjokroaminoto yang menjadikan pengalaman haji sebagai bagian dari perjuangan nasional.
Kedua, dimensi ideologis. Dengan mayoritas penduduk Muslim, haji menjadi cita-cita spiritual yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Ketiga, dimensi ekonomi. Dahnil menyebut skala ekonomi haji dan umrah sangat besar, dengan total perputaran dana mencapai sekitar Rp97,2 triliun hingga Rp112 triliun per tahun.
“Kuota haji Indonesia mencapai 221.000 jemaah per tahun, sementara jemaah umrah berkisar 2,5 hingga 3 juta orang. Ini menunjukkan betapa besar ekosistem ekonomi yang terlibat,” katanya.
Ia merinci, nilai ekonomi haji reguler mencapai sekitar Rp17,8 triliun, haji khusus Rp4,4 triliun, dan umrah antara Rp75 triliun hingga Rp90 triliun per tahun.
Karena itu, Dahnil menekankan pentingnya menyiapkan sumber daya manusia unggul yang mampu mengelola sektor ini secara profesional, transparan, dan berdaya saing global.
“Kampus memiliki peran penting dalam menyiapkan SDM tersebut. Maka kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi kunci,” ujarnya.







Discussion about this post