Cakra News
Advertisement
  • Home
  • News
  • Kaltara
  • Leisure
  • Story
  • Advetorial
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Kaltara
  • Leisure
  • Story
  • Advetorial
  • Opini
No Result
View All Result
Cakra News
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Kaltara
  • Leisure
  • Story
  • Advetorial
  • Opini
Home Opini

Membicarakan Hasil Pemilu 2024

by Prasetya
27/03/2024
in Opini
A A
Membicarakan Hasil Pemilu 2024
Share on FacebookShare on Twitter

Ditulis oleh Fadhil Qobus, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Borneo Tarakan.

 

RELATED POSTS

Refleksi 18 Tahun Perjalanan Bawaslu RI dalam Mengawal Kedaulatan Rakyat

Setahun Kinerja Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Utara

MEMBICARAKAN Hasil Pemilu 2024 akan diawali dengan sebuah pertanyaan, apakah kemenangan Prabowo-Gibran adalah benar kehendak rakyat atau paling tidak setengah lebih dari pemilih di TPS?

Kemenangan Prabowo-Gibran dalam kontestasi Pemilu 2024 baru saja diumumkan oleh KPU pada 20 Maret lalu. Pasangan capres-cawapres kesayangan Pak Pres Jokowi menang satu putaran dengan perolehan suara sebanyak 96.214.691 atau 58,58%.

Kemenangan yang menyisakan pertanyaan dan biasanya  dijawab dengan dua buah hipotesis:

Pertama bahwa pemilih mereka adalah orang-orang dengan tingkat Pendidikan rendah; dan yang kedua bahwa pemilih mereka adalah kelas menengah ke bawah. Kenyataannya dua hipotesis ini terbukti salah. Dalam Survei Litbang Kompas terlihat jelas suara pemilih Prabowo-Gibran merupakan orang dengan Pendidikan tinggi sebesar 41,7% sedangkan paslon 1 sebesar 34,7% dan paslon 3 sebesar 12,6% lalu suara pemilih dengan status sosial ekonomi dimana paslon 1 memiliki rata-rata 45,6% Kalangan atas serta 50,9% kalangan menengah atas. Data ini diambil dari hasil hitung cepat/quick count sebagai “fakta kemenangan” dan kita semua harus menerima dengan ikhlas.

Salah seorang dosen saya sering mengatakan Vox Populi Vox Dei, suara rakyat adalah suara tuhan, tetapi apakah suara rakyat selalu merupakan kebenaran? Atau katakanlah, apakah rakyat datang ke TPS mencoblos pilihannya disurat suara dan memasukan kedalam kotak suara secara sadar dan benar? Kita boleh membandingkan ini dengan apa yang terjadi negara lain seperti Jerman, sebuah negara beradab yang dalam perjalanan pada paruh pertama abad 20 memenangkan si Adolf Hitler, seorang fasis, pembantai jutaan yahudi dan lahir melalui proses demokrasi. Atau misal kemenangan si Donald Trump yang agak laen dalam pemilihan umum Amerika Serikat, yang katanya masyarakat disana lebih maju dan rasional.

Richar Dawkins, salah seorang dari empat intelektual terkemuka atau biasa dijuluki Four Horsemen dalam Buku 21 Pelajaran untuk Abad ke-21, punya pandangan menarik terkait persoalan ini. Ia pernah mengkritik pemerintah inggris ketika meminta pemungutan suara pada rakyat untuk kebijakan Brexit. Brexit itu adalah kebijakan mengenai migran dimana pekerja di wilayah Uni Eropa bebas keluar masuk tanpa dibatasi wilayah negara.

Dia keberatan soal itu sebab menurutnya, rakyat, termasuk dirinya sendiri, tidak layak dimintai sumbangan suara terhadap kebijakan referendum tersebut. “Kenapa gak sekalian aja kamu adakan pemungutan suara dilingkup nasional untuk putuskan bahwa bener gak Einsten soal aljabar, atau biarkan penumpang memilih sendiri mau dilandasan mana pilot mendaratkan pesawat?” terangnya. Sebenarnya si Dawkins mau bilang bahwa dalam pemungutan suara, rakyat itu rentan sekali keliru menentukan mana yang seharusnya mereka pilih. Sebab memilih pada dasarnya membutuhkan kecakapan politik dan kemampuan lain. Masalahnya adalah tidak semua individu dalam masyarakat kita punya kesempatan yang sama dalam mempelajari hal tersebut.

Sehingga, jika kita mau konsisten tentang demokrasi termasuk pelakunya agar menjalankan secara rasional, kata Harari “sama sekali tidak ada alasan memberi hak suara yang sama kepada semua orang” atau sebagian dari keseluruhan yang bisa mengikuti pemilihan umum. Karena hanya ada segelintir orang dalam masyarakat kita yang punya kecakapan politik dan kecakapan-kecakapan lain yang diperlukan sehingga bisa dikatakan memilih secara rasional. Bahkan menurutnya tidak ada alasan untuk memberikan hak suara pada siapa pun.

Lebih jelas bahwa sesungguhnya basis sebenarnya dari demokrasi bukan rasionalitas, melainkan perasaan. Hanya perasaan yang mampu mempresentasikan kehendak bebas dalam diri manusia. Sebagaian orang boleh jadi lebih rasional daripada sebagian lain, namun setiap dari mereka pasti punya perasaan, dan dengan demikian juga memiliki kehendak bebas. Ketika pemilih datang ke TPS, ia akan mencoblos berdasarkan kata hatinya, kebebasan yang ada pada dirinya. Namun, seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, sungguh kebebasan itu rentan sekali untuk menjerumuskan kita menuju jurang kekeliruan. Maka pemilihan umum yang rasional saya katakan nyaris TIDAK ADA.

Alih-alih rasional, dengan meminjam analisis Harari, kita akan sampai pada sebuah kesadaran bahwa rakyat cenderung memilih atas dorongan emosional soal siapa yang akan mereka pilih dan dudukkan pada kursi kekuasaan tertinggi sekaligus penentu nasib hidup 5 tahun kedepan. Untuk memilih secara rasional, butuh kecakapan yang bisa didapat salahsatunya dengan Pendidikan tinggi. Akan tetapi, lagi dan lagi kecakapan pun tidak meniscayakan kita terhindar dari jurang kekeliruan. Buktinya, pemilih pasangan “petahana” atau sering disebut gemoy didominasi oleh kalangan Pendidikan tinggi bahkan unggul jauh dibandingkan pasangan amin atau satset. Apakah ini mengartikan bahwa kemenangan mereka adalah pilihan Nurani rakyat, dan sebagai buah dari pilihan yang benar?

 

Sumber :

  • Buku 21 Pelajaran untuk Abad ke-21 oleh Yuval Noah Harari
  • https://www.kompas.tv/nasional/485453/litbang-kompas-prabowo-gibran-didukung-kuat-pemilih-berstatus-pendidikan-menengah-dan-dasar#
Tags: Pemilu 2024Prabowo-Gibran
ShareTweetShareSendShare

Related Posts

Refleksi 18 Tahun Perjalanan Bawaslu RI dalam Mengawal Kedaulatan Rakyat

Refleksi 18 Tahun Perjalanan Bawaslu RI dalam Mengawal Kedaulatan Rakyat

by Redaksi
10/04/2026
0

Oleh : Mistang Anggota KPU Kabupaten Bulungan Tahun 2026, tepatnya tanggal 9 April menandai masuknya usia ke-18 Badan Pengawas Pemilihan...

Setahun Kinerja Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Utara

Setahun Kinerja Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Utara

by Prasetya
04/04/2026
0

Penulis: Anhari Firdaus, Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Borneo Tarakan   "seperti lebah, mulut bau madu tapi pantat bawa sengat", mungkin...

Mhd Al Hafis, Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Fakultas Hukum Universitas Borneo Tarakan

Bersihkan Meja Rakyat dari Kepalsuan

by Prasetya
30/03/2026
0

Oleh Mhd Al Hafis, Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Fakultas Hukum Universitas Borneo Tarakan Di balik megahnya gedung wakil...

Ikhtiar Menjaga Hak Pilih : Peluang Penggunaan Special Voting Arrangement (SVA) pada Pemilu dan Pemilihan di Indonesia

Ikhtiar Menjaga Hak Pilih : Peluang Penggunaan Special Voting Arrangement (SVA) pada Pemilu dan Pemilihan di Indonesia

by Redaksi
12/03/2026
0

Oleh : Mistang Anggota KPU Kabupaten Bulungan Pemilu merupakan “jantungnya” demokrasi yang menjamin setiap warga negara dapat menentukan arah pemerintahan...

Polri Harus Transparan dan Partisipatif Membendung “Wabah” Paham Radikal Neo Nazi-White Supremacy

Polri Harus Transparan dan Partisipatif Membendung “Wabah” Paham Radikal Neo Nazi-White Supremacy

by Prasetya
05/01/2026
0

Oleh: Dedy Syarkani, Sekretaris Pemuda ICMI Kalimantan Utara Fenomena munculnya riak-riak paham radikal transnasional seperti Neo-Nazi dan White Supremacy di...

Next Post
Bupati Laura Salurkan Bantuan Sembako Kepada Masyarakat Kurang Mampu

Bupati Laura Salurkan Bantuan Sembako Kepada Masyarakat Kurang Mampu

penandatanganan komitmen pencegahan dan penurunan stunting kota Tarakan tahun 2024 (FOTO : Humas Pemkot Tarakan)

Ini Kendala Penanganan Stunting di Tarakan

Discussion about this post

Ikuti Kami

Ikuti Kami

Berita Populer

  • Paguyuban Trenggalek Tarakan Perkuat Guyub Rukun Lewat Silaturahmi Rutin

    Paguyuban Trenggalek Tarakan Perkuat Guyub Rukun Lewat Silaturahmi Rutin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • BPJS Ketenagakerjaan Tarakan Edukasi Buruh soal Manfaat 5 Program Perlindungan Kerja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Usung Tagline HMI Progresif, Fadhil Qobus Menang Telak Dalam Konferensi HMI Cabang Tarakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Terduga Gratifikasi Rp1 Miliar ke NA, Haji Momo Masih Belum Ditahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 Hantu Paling Ngeri Asli Kalimantan, Siap-siap Merinding Baca Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Berita

  • Advetorial
  • Ekonomi
  • Headline
  • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Kaltara
  • Leisure
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Story

Tentang Kami

  • Redaksi & Manajemen
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Iklan & Advetorial

© 2021 PT. Cakra Media Mandiri Indonesia.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Kaltara
  • Leisure
  • Story
  • Advetorial
  • Opini

© 2021 PT. Cakra Media Mandiri Indonesia.