Cakra News
Advertisement
  • Home
  • News
  • Kaltara
  • Leisure
  • Story
  • Advetorial
  • Opini
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Kaltara
  • Leisure
  • Story
  • Advetorial
  • Opini
No Result
View All Result
Cakra News
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Kaltara
  • Leisure
  • Story
  • Advetorial
  • Opini
Home Nasional

Sejarah Sunat yang Wajib Diketahui Warga Tarakan, Ada yang Potong Pakai Kerang Laut!

by Redaksi
07/04/2022
in Nasional
A A
Sejarah Sunat yang Wajib Diketahui Warga Tarakan, Ada yang Potong Pakai Kerang Laut!

Ilustrasi Sunat (Foto: Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

TARAKAN, CAKRANEWS – Bagi masyarakat Kota Tarakan, mungkin sunat sudah dianggap sebagai hal biasa, dan menjadi keharusan bagi kaum laki-laki beragama muslim. Namun tahukah Anda jika, sunat di masa lampau sifatnya wajib dan memiliki makna dan fungsi yang beragam tergantung kultur dan budaya masing-masing wilayah.

Kira-kira tradisi ini pertama kali muncul di mana ya? Biar gak penasaran, berikut ulasan dari CAKRA NEWS yang dirangkum dari pelbagai sumber:

Sunat di Mesir dan Israel

Referensi paling awal soal sunat berasal dari 2.400 SM, yang terlacak lewat sebuah relief di tanah pemakaman kuno Saqqara,Mesir. Relief itu menggambarkan serangkaian adegan medis, termasuk praktik sunat dengan pisau.

Di era Mesir Kuno, praktik ini dilakukan pada remaja pria yang akan beranjak dewasa dari kelas bangsawan. “Sunat Mesir mungkin juga telah digunakan untuk membatasi kelas elite khusus,” tulis laman Ancient Origin.

Namun, menurut perkiraan D. Doyle, dalam “Ritual Male Circumcicion: a Brief History” terbit dalam The Journal of the Royal College of Physicians of Edinburgh, sebenarnya orang Mesir mengadopsi sunat dari masa yang jauh lebih awal lho.

Yakni dari orang-orang yang tinggal di wilayah yang lebih jauh ke selatan, ada kaitannya dengan bangsa Sumerian dan Semit (kini wilayah Sudan dan Ethiopia). Sementara di Israel kuno, sunat memiliki makna, fungsi dan proses yang agak berbeda. Sunat merupakan penanda etnis yang menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari bangsa Israel.

Kini orang Yahudi modern, lazimnya melakukan sunat pada bayi, delapan hari setelah kelahiran. Namun, praktik itu bisa juga dilakukan pada orang dewasa, jika diperlukan. Mereka biasanya orang yang tadinya non-Israel tapi kemudian memutuskan ingin masuk ke komunitas Yahudi.

“Salah satu cara yang membedakan agama Kristen dari Yudaisme adalah orang Kristen non-Yahudi tidak perlu disunat,” demikian penjelasan Ancient Origin.

Sunat di Budaya Afrika Lainnya

Praktik sunat begitu umum di kalangan masyarakat Afrika timur. Sebagaimana di Mesir Kuno, biasanya sunat terkait ritus peralihan ke dewasa.

Laki-laki muda dari etnis Xhosa dan Zulu secara tradisional memiliki ritual sunat yang rumit, di mana tubuh mereka akan dicat dengan kapur sebelum disunat.

Mereka akan diisolasi dari komunitas selama beberapa minggu. Mereka tak boleh berdekatan dengan perempuan. Setelah disunat, mereka akan meninggalkan kulit khitan yang terpotong di hutan sebagai simbol meninggalkan kehidupan masa kecil untuk menjadi laki-laki, dan kemudian mencuci kapur di sungai.

Budaya ini masih dipertahankan hingga kini, tetapi biasanya di rumah sakit bukan dengan cara tradisional lagi.

Sunat di Kawasan Oceania

Sunat secara historis tidak hanya di Afrika dan Timur Tengah. Praktik semacam ini juga dilakukan di Oceania dan Australia oleh suku Aborigin. Di Oceania dan Australia, sunat adalah ritual peralihan ke dewasa sekaligus ujian keberanian.

Mereka menggunakan kerang laut sebagai alat pemotongnya. Orang yang disunat ditahan tubuhnya agar menghadap ke atas. Dia berbaring di punggung seorang pria yang berlutut. Lengan dan kakinya dipegangi pria lain.

Untuk menghentikan pendarahan, menurut Doyle, mereka berjongkok atau berdiri di atas asap dari api yang ditutupi dengan daun kayu putih selama beberapa jam.

Ada yang mengatakan, darah yang menetes ke dalam api adalah simbol simpati kepada perempuan yang mengalami menstruasi.

Hukuman Bagi Musuh di Masa perang

Bukan hanya sebagai ritual menuju dewasa dan alasan keagamaan, sunat juga digunakan untuk menghukum tentara musuh. Beberapa kasus terjadi di Timur Tengah, Afrika timur, dan Asia Selatan.

W.D. Dunsmuir dan E.M. Gordon dari Department of Urology St. George’s Hospital NHS Trust dalam “The History of Circumcision” yang terbit di Journal BJU International menyebut, sunat juga dipercaya sebagai tanda kekotoran atau perbudakan.

Di Mesir Kuno misalnya, prajurit yang ditangkap sering dimutilasi sebelum dijadikan budak.

Siapa Tukang Sunatnya?

Dunsmuir dan Gordon mengatakan, pada zaman Alkitab sunat dilakukan para ibu ketika bayi baru lahir. Namun, perlahan-lahan tukang sunat (mohel) mengambil alih. Mereka adalah pria yang memiliki keterampilan bedah dan pengetahuan agama yang mumpuni.

Sementara dalam masyarakat Mesir Kuno, sunat dilakukan oleh pendeta dengan kuku jempolnya yang sering dilapisi emas. Pun sepanjang abad pertengahan, sunat dilakukan oleh petugas laki-laki yang religius. Konon, ada kemungkinan bahwa dokter tidak melakukan sunat sampai paruh kedua abad ke-19.

Mulai diterapkan secara umum dan jadi kontroversi

Sunat masih berlanjut hingga kini. Menurut Ancient Origin, sepertiga dari pria di seluruh dunia disunat, terutama di kalangan Muslim dan Yahudi, karena alasan agama. Di luar itu, sunat tersebar luas di Amerika Serikat dengan alasan kesehatan.

Namun,  di sisi lain, banyak organisasi medis utama dunia tidak setuju ada manfaat yang signifikan dari sunat. Sunat dianggap menjadi kontroversi karena kekhawatiran kurangnya informasi cara pembedahan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia.

RELATED POSTS

Telkom Bukukan Kinerja Resilience pada FY25, Perkuat Fundamental dan Hasilkan Total Shareholder Return 35,7 Persen

Usung Tagline HMI Progresif, Fadhil Qobus Menang Telak Dalam Konferensi HMI Cabang Tarakan

Tags: Sejarah Sunat
ShareTweetShareSendShare

Related Posts

Telkom Bukukan Kinerja Resilience pada FY25, Perkuat Fundamental dan Hasilkan Total Shareholder Return 35,7 Persen

Telkom Bukukan Kinerja Resilience pada FY25, Perkuat Fundamental dan Hasilkan Total Shareholder Return 35,7 Persen

by Prasetya
12/05/2026
0

JAKARTA, CAKRANEWS– PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menutup kinerja perseroan tahun buku 2025 dengan hasil yang mencerminkan keberlanjutan penciptaan...

Usung Tagline HMI Progresif, Fadhil Qobus Menang Telak Dalam Konferensi HMI Cabang Tarakan

Usung Tagline HMI Progresif, Fadhil Qobus Menang Telak Dalam Konferensi HMI Cabang Tarakan

by Prasetya
11/05/2026
0

TARAKAN, CAKRANEWS - Estafet kepemimpinan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tarakan resmi berganti. Muhammad Fadhil Qobus terpilih menjadi Formateur/Ketua Umum...

Melayani Sepenuh Hati, Pegadaian Raih Penghargaan Top CX Brand Award 2026

Melayani Sepenuh Hati, Pegadaian Raih Penghargaan Top CX Brand Award 2026

by Prasetya
07/05/2026
0

JAKARTA, CAKRANEWS — PT Pegadaian meraih Contact Center Service Excellence Award (CCSEA) 2026 untuk kategori Multifinance Call Center dalam ajang...

Kuliah Umum UBT Hadirkan Wamen Haji, Bahas Ekonomi dan SDM Unggul

Kuliah Umum UBT Hadirkan Wamen Haji, Bahas Ekonomi dan SDM Unggul

by Prasetya
04/05/2026
0

TARAKAN, CAKRANEWS — Universitas Borneo Tarakan (UBT) menggelar kuliah umum bertajuk Entrepreneurship University: Menyiapkan SDM Unggul dalam Industri Haji Global,...

SePOI Bentangkan Spanduk di Monas saat May Day 2026, Desak Aturan Tegas untuk Ojol

SePOI Bentangkan Spanduk di Monas saat May Day 2026, Desak Aturan Tegas untuk Ojol

by Prasetya
02/05/2026
0

JAKARTA, CAKRANEWS - Serikat Pengemudi Online Indonesia (SePOI) ikut meramaikan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di kawasan Monas,...

Next Post
Viral Gelas Kaca Bersarang di Perut Pria asal Jember, Gimana Masuknya Ya?

Viral Gelas Kaca Bersarang di Perut Pria asal Jember, Gimana Masuknya Ya?

Ekonomi Belum Stabil, Harusnya Pemerintah Tak Paksa Terapkan PPN 11 Persen

Ekonomi Belum Stabil, Harusnya Pemerintah Tak Paksa Terapkan PPN 11 Persen

Discussion about this post

Ikuti Kami

Ikuti Kami

Berita Populer

  • Paguyuban Trenggalek Tarakan Perkuat Guyub Rukun Lewat Silaturahmi Rutin

    Paguyuban Trenggalek Tarakan Perkuat Guyub Rukun Lewat Silaturahmi Rutin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Reses Supa’ad Hadirkan Pejabat Kompeten, Mahasiswa Tanya Beasiswa dan Peluang Kerja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Supa’ad: SPMB Harus Transparan, Tidak Ada Titipan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 Bahasa Gaul Anak Tarakan, Nomor 4 Kocak Banget

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Terduga Gratifikasi Rp1 Miliar ke NA, Haji Momo Masih Belum Ditahan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Berita

  • Advetorial
  • Ekonomi
  • Headline
  • Hukum & Kriminal
  • Internasional
  • Kaltara
  • Leisure
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Politik
  • Story

Tentang Kami

  • Redaksi & Manajemen
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Iklan & Advetorial

© 2021 PT. Cakra Media Mandiri Indonesia.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Kaltara
  • Leisure
  • Story
  • Advetorial
  • Opini

© 2021 PT. Cakra Media Mandiri Indonesia.